Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2000 penduduk Indonesia

berjumlah 209 juta merupakan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia. Dari jumlah

tersebut 105 juta (50,24%) adalah wanita dan 104 juta (49,76%) pria. Separuh

jumlah penduduk tersebut tinggal di kota, persentase penduduk wanita dan pria di

kota dan di desa tidak jauh berbeda, yaitu di kota : 50,1% wanita dan 49, 9% pria,

sedang di desa: 49,7% wanita dan 50, 3% pria.

Dilihat dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk Indonesia yang

berusia 10 tahun keatas, pendidikan yang ditamatkan wanita masih lebih rendah

dari pria di semua jenjang pendidikan terlebih lagi pada tingkat perguruan tinggi. Di

kota: 27% wanita tidak tamat SD, 28 % tamat SD, 18% tamat SLTP, 22% tamat

*) Kasubid Evaluasi dan Pelaporan serta Peneliti Muda Bidang Perkoperasian, Deputi Bidang

Pengkajian Sumberdaya UKMK

2

SMU/SMK, dan hanya 5% tamat perguruan Tinggi, sedang pria pendidikan

tertingginya 19% tidak tamat SD, 26% tamat SD, 20% tamat SLTP, 28% tamat

SMU/SMK, dan 7% tamat perguruan tinggi. Di desa : 48% wanita tidak tamat SD,

34% tamat SD, 11% tamat SLTP, 6% tamat SMU/SMK, dan hanya 1% tamat

perguruan Tinggi, sedang pria pendidikan tertingginya 38% tidak tamat SD, 36%

tamat SD, 14% tamat SLTP, 10% tamat SMU/SMK, dan 1% tamat perguruan

tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan di

Indonesia (kota dan desa) tingkat partisipasi perempuan semakin rendah. Tingkat

pendidikan akan berkorelasi dan berbanding lurus dengan kondisi tingkat

perekonomian dan kesejahteraannya karena dengan tingkat pendidikan rendah

kesempatan memperoleh pekerjaan, menduduki jabatan-jabatan strategis baik di

perusahaan, pemerintahan, maupun parlemen juga rendah. Di dunia pendidikan

saja sebagai contoh tingkat partisipasi perempuan sebagai tenaga pengajar juga

semakin menurun dengan semakin tingginya jenjang pendidikan, yaitu partisipasi

guru wanita di SD 54% , SLTP 44%, SLTA 38%, dan perguruan tinggi hanya 29%.

Wanita yang bekerja umumnya hanya membantu usaha rumah tangga

sedangkan pria yang bekerja pada umumnya berwiraswasta baik dengan bantuan

buruh/pegawai maupun tidak, adapun data wanita bekerja yaitu 33% wiraswasta,

31% menjadi buruh/pegawai, 36% membantu usaha rumah tangga, sedang data pria

bekerja: 53% wiraswasta, 37% menjadi buruh/pegawai, dan 10% membantu usaha

rumah tangga. 36% wanita bekerja berstatus membantu usaha rumah tangga, disini

wanita merupakan tenaga kerja keluarga tidak dibayar (unpaid family workers ),

fenomena ini menunjukkan meskipun wanita aktif dalam kegiatan produktif

dianggap tidak bekerja, demikian halnya dalam pekerjaan tertentu seperti kerja

paruh waktu, sub kontrak, atau putting out worker tidak dianggap bekerja sehingga

data statistik menunjukkan tingkat pengangguran wanita usia 15 tahun keatas lebih

tinggi dari pria yaitu wanita 4,4% sedang pria 4%.

Disamping faktor pendidikan sebagaimana disebutkan diatas, munculnya

persoalan perempuan juga tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor ideologi,

struktural dan kurtural, ketiganya saling terkait menguatkan suatu situasi yang

sangat tidak menguntungkan perempuan. Ideologi patriaki yang bergandengan

dengan ideologi gender telah merasuki struktur dan sistem sosio kultural

masyarakat yang menempatkan perempuan di posisi pinggiran. Internalisasi nilainilai

patriaki yang mengunggulkan peran dan status laki-laki telah mendukung

terciptanya peran dan status perempuan yang bersifat sekunder. Kondisi semacam

ini pada dasarnya merupakan pencerminan dari deskriminasi sosial, politik,

ekonomi,adat, budaya, hukum, dan agama terhadap perempuan.