Secara umum masih sedikit diantara kita yang menyadari bahwa perempuan

menghadapi persoalan yang spesifik gender, yaitu persoalan yang hanya muncul

karena seseorang atau kelompok orang adalah perempuan. Tidak saja di kalangan

laki-laki, tapi kaum perempuan sendiri yang masih banyak tidak menyadari hal

tersebut, sehingga memandang tidak perlu persoalan perempuan harus dibahas dan

diperhatikan secara khusus. Hal ini terjadi karena mendalamnya penanaman nilainilai

mengenai peran laki-laki dan perempuan, yang menganggap sudah kodratnya

perempuan sebagai ratu rumah tangga, sebagai pengendali urusan domestik saja

begitu dominan di masyarakat kita, sehingga adanya pikiran dan keinginan

mengenai kesempatan beraktivitas di luar domain rumah tangga dianggap sesuatu

yang mengada-ada, sehingga tidak aneh muncul paradigma perempuan tidak perlu

sekolah tinggi toh akhirnya hanya akan mengurus sekitar kasur, sumur, dan dapur.

Seiring dengan kemajuan pembangunan dan terbukanya arus globalisasi dan

informasi, serta meningkatnya tingkat pendidikan perempuan, meskipun tetap lebih

rendah dari pada tingkat pendidikan laki-laki sebagai ditunjukkan data BPS tahun

2000, perempuan Indonesia sudah keluar dari tembok batas rumahnya untuk bekerja

dan berkarya, baik sebagai pegawai pemerintah, karyawati, perusahaan baik

nasional maupun multinasional, serta sebagai pengusaha, dengan tidak

mengabaikan peran utamanya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Perempuan

yang memutuskan untuk bekerja selain untuk mengoptimalkan pendidikan dan

potensinya, juga adanya kesadaran untuk menopang kehidupan rumah tangganya,

karena dengan semakin majunya peradapan dunia semakin tinggi pula kebutuhan

hidup dan rumah tangganya, dan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah

tangga mencurahkan waktu sepenuhnya untuk suami dan anak-anaknya adalah

keputusan yang baik pula karena sebenarnya kewajiban mencari nafkah menurut

agama khususnya Agama Islam adalah berada dipundak pria atau suami. Apalagi

setelah perekonomian Indonesia dilanda krisis pada pertengahan tahun 1997, PHK

dan pengangguran bertambah, karena krisis suami sebagai kepala rumah tangga

menjadi pegangguran, kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan tak

mungkin dihentikan, memaksa para istri yang semula hanya sebagai ibu rumah

tangga mulai berperan di berbagai bidang usaha sebagai pelakon usaha. Menurut

hasil penelitian Badan Pengembangan Sumberdaya KPKM tahun 2001, melalui

orang responden menyatakan bahwa motivasi wanita melakukan usaha adalah

untuk (1) mengurangi pengangguran atau menciptakan lapangan usaha (2)

meringankan beban keluarga (3) mengubah nasib (4) menjadi diri sendiri (5) kaya

dan (6) meningkatkan kesejahteraan .

Banyaknya motivasi wanita melakukan usaha karena ingin mengurangi

pengangguran atau menciptakan lapangan usaha, menunjukkan adanya kesadaran

dari wanita atas kondisi pengangguran yang semakin meningkat, adanya kesadaran

dari wanita untuk menciptakan pekerjaan bukan mencari pekerjaan.

Dalam kenyataannya, meskipun banyak perempuan Indonesia telah

banyak memperoleh gelar sarjana, master, bahkan doctor, hanya sedikit sekali

pucuk pimpinan baik di pemerintahan maupun swasta yang diduduki oleh

perempuan, tentu saja selain perusahaan-perusahaan yang memang dikelola oleh

perempuan seperti perusahaan catering, kosmetik, majalah wanita, jasa psikologi,

kesenian, atau kerajinan-kerajinan tertentu,

Dalam hal keterlibatan perempuan Indonesia dalam dunia usaha atau

sebagai pengusaha/wirausaha telah ada sejak zaman ke zaman, sejak dulu wanita

telah terjun dalam dunia perdagangan, misalnya wanita-wanita di Solo telah

membantu ekonomi keluarga bahkan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga

dari usaha batik yang mereka kelola. Demikian halnya di Palembang, Padang,

Lampung, dan Ujung Pandang, wanita-wanita sukses mengelola industri rumah

tangga berupa kain songket, di daerah-daerah lain terkenal dengan berbagai jenis

kerajinan tangan ataupun makanan sebagai ciri khas suatu daerah adalah hasil karya

tangan-tangan perempuan.

Wanita potensial untuk melakukan berbagai kegiatan produktif yang

menghasilkan dan dapat membantu ekonomi keluarga, dan lebih luas lagi ekonomi

nasional, apalagi potensi tersebut menyebar di berbagai bidang maupun sektor.

Dengan potensi tersebut wanita potensial berperan aktif dalam proses recovery

ekonomi yang masih diselimuti berbagai permasalahan, untuk itu potensi

perempuan perlu ditingkatkan atau paling tidak dikurangi penyebab-penyebab

mengapa perempuan sulit maju dalam karier bagi perempuan bekerja dan sulit maju

usahanya bagi perempuan pelaku usaha.

Menurut Cakrawala Cinta (Ide Usaha Kecil dan Madya, 1994), terdapat

perbedaaan penting yang menentukan jiwa kewiraswastaan, antara pria dan wanita,

yang mana kebanyakan wanita sulit untuk maju karena :1). Wanita kurang diajar

bersaing, mereka tidak dikembangkan dengan semangat persaingan yang baik

dalam dunia usaha. Sejak kehidupan kanak-kanak mereka kurang terlibat , kurang

terlatih dalam teamwork, misalnya dalam teamworksport. Mereka kurang

bertanding, malahan cenderung menghindari konfrontasi, karena konfrontasi bukan

sifat lemah lembutnya wanita, 2).Wanita terlalu melihat detail perkara-perkara

kecil, mereka terlalu terlalu berkepentingan atas hal-hal yang detail dari masalah,

sehingga tidak terbiasa melihat kedudukan perspektif keseluruhannya, karena

terbiasa dengan hal-hal kecil, melepaskan konteks global perusahaan, akan

mengganggu pengembangan jiwa kepemimpinannya, 3). Wanita emosionil dalam

situasi yang tidak tepat, sehingga banyak wanita menghabiskan waktu

memikirkan ”apa kata orang nanti” ketika seharusnya dia berpikir secara

profesional untuk menyelesaikan tugasnya, sering menanam ”perasaan tidak enak”

secara berkepanjangan, sering emosionil dan sentimentil apabila dikritik tentang

pekerjaannya, sikap maupun penampilannya, 4).Wanita kurang berani

mengambil resiko, berkaitan dengan sering memikirkan ”apa kata orang nanti”,

wanita cenderung melakukan tugas–tugas secara aman dan average (rata-rata

kebiasaan, sehingga pimpinan menganggap mereka sebagai pegawai biasa-biasa

saja yang rata-rata, tidak akan menuntut jenjang promosinya, 5).Wanita kurang

cukup agresif, karena sifat agresif tidak searah dengan pendidikan yang

diterimanya selama ini, bahwa wanita harus feminim, jangan agresif, sehingga tidak

”berani ” mengungkapkan perasaan dan idenya secara tegas (asertif), dan tidak

”berani ” mengatakan ”tidak” atas pendapat dan sikap teman kerjanya yang

diketahuinya salah, 6).Mereka lebih senang bereaksi daripada mengambil

inisiatif, mereka terlalu rikuh untuk menonjolkan kelebihan pendapat dan

kepemimpinannya dan lebih suka jalur yang telah ada, 7).Wanita lebih

berorientasi pada tugas dari pada tujuan, berpikir besar pada tujuan dan sasaran,

terkalahkan oleh kebiasaannya dalam pekerjan rutin dan yang detail.